Make your own free website on Tripod.com
( Oleh : Lukman Hakim )

A. PENDAHULUAN
Pada permulaan Islam, kaum Quraisy belumlah mencurahkan perhatiannya untuk menentang agama Islam, mereka mengira bahwa seruan Muhammad itu hanya suatu gerakan yang tidak berapa lama tentu akan lemah dan lenyap dengan sendirinya. Akan tetapi alangkah terkejutnya mereka melihat bahwa seruan itu dengan cepat telah memasuki lingkungan keluarga mereka dan bahkan hamba sahaya mereka yang dahulunya mereka anggap derajatnya tidak lebih dari harta benda.


Oleh karena itu dengan cepat mereka mengadakan penentangan dan perlawanan terhadap ajaran Rosul saw dengan cara menyiksa dan menyakiti para pengikut Rosul saw. Dengan kondisi seperti ini Rosul saw mulai memikirkan umatnya agar terlepas dari siksaan orang-orang Quraisy, yakni dengan cara memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman atau dengan kata lain berhijrah. Mengenai hijrah inilah yang akan dibahas penulis pada poin berikut.

B. LATAR BELAKANG HIJRAH.
Penganiayaan yang dialami Rosul saw di Makkah dan pertentangan yang gigih terhadapnya menyebabkan Rosul saw harus mengubah strategi da'wah beliau. Ketika beliau merasa yakin bahwa kaum Quraisy tidak akan mau menundukan kepala mereka kepada Alloh swt, Rosul saw menyampaikan ajarannya kepada para peziarah dan pedagang dari kota Yatsrib yang melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Di antara mereka ada yang langsung memeluk Islam karena terkesan oleh kesungguhan dan kebenaran Rosul saw. Kemudian mereka melakukan sumpah resmi untuk menyembah tuhan Alloh swt dan melaksanakan perintah-Nya serta patuh kepada Rosul saw dalam segala hal yang baik. Janji ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai Perjanjian Aqobah Pertama.

Penembusan Islam secara damai melalui hubungan diplomatik Rosul saw dengan para peziarah dan pedagang yang merupakan anggota dari berbagai suku Madinah itu besar sekali artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam, karena sekurang-kurangnya beberapa anggota dari berbagai suku Madinah masuk Islam.

Pada tahun 622 M orang-orang Yatsrib yang telah masuk Islam datang kembali ke Makkah untuk mengundang Rosul saw ke kota mereka dan mereka mengambil sumpah bahwa mereka akan melindungi Rosul saw dan agamanya dari bahaya apapun. Janji inilah yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Aqobah Kedua. Ketika kaum Quraisy mendengar hal tersebut mereka merencanakan untuk membunuh Rosul saw. Sebab-sebab utama yang membuat Rosul saw berhijrah antara lain :
  1. Perbedaan iklim kedua kota itu mempercepat dilakukannya hijrah. Iklim Madinah yang lembut dan watak masyarakat yang ramah sangat mendorong penyebaran dan pengembangan ajaran Islam lebih baik. Sebaliknya kota Makkah tidak mempunyai kemudahan seperti ini.
  2. Nabi-nabi pada umumnya tidak dihormati di negeri mereka. Nabi Muhammad saw juga tidak diterima oleh kaumnya sendiri tapi beliau diakui sebagai Nabi Alloh swt oleh orang-orang Madinah, dan beliau sungguh-sungguh diminta untuk datang ke kota mereka, lalu Rosul saw mengabulkannya.
  3. Golongan pendeta dan bangsawan Quraisy Makkah sangat menentang ajaran yang di bawa Rosul saw.
  4. Orang-orang Madinah mengundang Rosul saw dengan harapan bahwa melalui pengaruh pribadi serta nasehat Rosul saw, perang yang berkepanjangan antara suku Aus dan Khazraj, yang hampir melumpuhkan kehidupan yang normal dari orang-orang Madinah akan berakhir.

C. HIJRAH
Kata hijrah berasal dari kata hajara yang berarti pindah atau meninggalkan tempat yang lama menuju ke tempat yang baru, baik secara fisik seperti pindah tempat tinggal, tempat usaha maupun sikap batin seperti pindah aqidah atau pandangan politik.

Hijrah pertama kaum Muslimin adalah ke Habsyi atau Ethiopia, dan itu merupakan peristiwa perpindahan penduduk pertama di dunia dengan alasan agama. Hijrah ini terjadi pada bulan Rajab tahun ke-5 sesudah kenabian Muhammad saw. Hal itu bukan karena mereka diusir oleh musuh, tapi karena disiksa di negeri mereka sendiri. Kaum kafir Quraisy tidak menginginkan mereka pergi tapi yang diinginkan adalah hapusnya ajaran Islam dan musnahnya umat penganut ajaran Islam.

Pemilihan negeri Habsyi sebagai tempat hijrah karena menurut pemikiran Rosul saw penguasa di sana seorang penganut agama Nashrani yang santun dan suka menjalin silaturrahmi. Terdapat dua kali gelombang hujrah ke Habsyi. Gelombang Pertama, hanya dilakukan oleh 15 orang saja, terdiri dari 11 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Malihat makin sengitnya tekanan dan siksaan kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin, gerakan hijrah ke Habsyi semakin besar, sehingga terjadi hijrah gelombang kedua, dengan jumlah sekitar 100 orang. Ada tiga peristiwa penting pada periode hijrah ke Habsyi. Pertama, kembalinya Muhajirin gelombang pertama ke Makkah karena mereka mendapat berita bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Kattab telah masuk Islam sehingga orang kafir Quraisy tidak lagi berani menindas dan menyiksa kaum Muslimin, dan di Habsyi sendiri terjadi sedikit pergolakan karena pertentangan etnis. Kedua, kehadiran delegasi kafir Quraisy yang di pimpin oleh Amru bin 'Ash kepada raja Najasyi untuk memohon agar raja menolak ijin tinggal kaum Muslimin dan mengembalikannya ke Makkah, tapi permohonan itu ditolak. Ketiga, Peristiwa pernikahan Rosul saw Ramlah binti Abu Sufyan bin Harb yang kehadiran dan ucapan ijab qobul Rosul saw diwakili oleh raja Najasyi yang telah masuk Islam.

Kemudian setelah Perjanjian Aqobah Kedua, Terjadi hijrah lagi yang diawali dengan hijrahnya kaum Muslimin secara berangsur-angsur ke Yatsrib hingga akhirnya tinggal Rosul saw, Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib yang tetap tinggal di Makkah. Setalah orang-orang kafir Quraisy mengetahui para shahabat Rosul saw pergi meninggalkan Makkah dengan memboyong keluarga, anak-anak dan harta benda mereka untuk hijrah ke Yatsrib, kekhawatiran dan kegundahan menghantui orang-orang kafir Quraisy. Mereka tahu persis bagaimana kepribadian Muhammad saw yang sangat handal dalam mempengaruhi orang lain, di samping kredibilitas kepemimpinan dan kesempurnaan bimbingannya. Sementara para shahabatnya juga memiliki semangat membara, tunduk dan siap berkorban membela beliau.

Untuk itu pada hari Kamis tanggal 26 Shafar tahun 14 dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 12 September 622 M atau kira-kira selang dua bulan setengah setelah Baeat Aqobah Kedua, diadakan pertemuan yang dihadiri para wakil dari setiap kabilah Quraisy di Darun Nadwah. Pertemuan itu bertujuan untuk mengkaji langkah yang paling jitu untuk menghabisi Rosul saw.

Sebelum hijrah Rosul saw menemui dan mengajak Abu Bakar agara menyertainya dalam hijrah. Setelah merancang langkah-langkah untuk hijrah, maka beliau kembali ke rumahnya menunggu datangnya malam. Siang itu para pemuka Quraisy membuat persiapan untuk melaksanakan rencana yang sudah ditetapkan di Darun Nadwah yaitu dengan membunuh Rosul saw. Seperti yang sudah dirancang, rencana jahat itu akan dilaksanakan pada tengah malam. Maka dari itu mereka terus berjaga dan menunggu saat yang sudah ditentukan.

Sekalipun orang-orang Quraisy telah mempersiapkan secara matang untuk melaksnakan rencana mereka, tetap saja mereka gagal toatal. Pada saat-saat yang kritis itu Rosul saw memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Kemudian Rosul saw pergi ke rumah Abu Bakar dan mereka berdua keluar dari rumah Abu Bakar pada tengah malam hingga tiba di gua Tsaur. Selama 3 hari Rosul saw dan Abu Bakar bermalam di gua tersebut.

Pada hari Senin tanggal 8 Robi'ul Awwal tahun ke -14 dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M Rosul saw tiba di Quba'. Beliau berada di Quba selama 4 hari dan mendirikan temat ibadah di sana. Sementara itu Ali bin Abu Thalib berada di Makkah selama 3 hari, untuk menyelesaikan urusan Rosul saw dengan beberapa orang seperti yang dipesankan beliau. Setelah itu dia berhijrah ke Yatsrib dengan cara berjalan kaki, hingga bertemu Rosul saw di Quba'. Pada hari Jum'at beliau melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib. Sholat Jum'at dilaksanakan di Bani Salim binAuf. Seusai sholat Jum'at Rosul saw memasuki Yatsrib. Sejak itulah Yatsrib dinamakan Madinatur Rosul.

D. HIKMAH HIJRAH
Ada beberapa catatan penting yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah Rosul saw baik ke Habsyi atau Ethiopia maupun yang ke Madinah, antara lain :
  1. Terjalin Ukhuwah Islamiyah antara kaum Muhajirin, yaitu para shahabat yang sejak di Makkah telah membantu Rosul saw dalam memperjuangkan tegaknya ajaran Islam serta mengikuti Rosul saw hijrah ke Madinah, dan kaum Anshar yaitu kaum Muslimin Madinah yang menyambut kedatangan Rosul saw serta rombongan Muhajirin lainnya, dan merupakan gelar yang diberikan Rosul saw kepada orang Madinah yang beriman sebagai penghormatan kepada mereka.
  2. Dalam kerangka persatuan adanya penghormatan terhadap pluralitas dan perbedaan antar etnis, bangsa, peradaban dan lain-lain. Dengan demikian akan terjadi rasa bangga terhadap kekhasan dan keutamaan yang di miliki tanpa mengingkari kekhasan dan kelebihan yang lain.
  3. Diterimanya Rosul saw sebagai penengah di antara golongan-golongan yang bermusuhan di Madinah menunjukan kepercayaan yang besar dari penduduk Madinah terhadap pribadi Rosul saw.
    Demikianlah beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah Rosul saw, di samping masih ada banyak kemungkinan hikmah yang bisa di dapat selain tersebut di atas. Seperti kesetiakawanan, jihad fi sabilillah, amanah dan lain-lain.
E. PENUTUP
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa setelah da'wah Rosul saw di Makkah mendapat tantangan dan perlawanan yang keras dari kaum kafir Quraisy, Untuk itu Rosul saw mengubah strategi da'wahnya dengan cara berhijrah ke tempat yang lebih memungkinkan da'wah beliau diterima masyarakat. Hijrah Rosul saw pertama kali ke Habsyi atau Ethiopia kemudian hijrah berikutnya ke Yatsrib yang kemudian oleh Rosul saw disebut Madinatur Rosul.
Beberapa hikmah yang dapat diambil dari peristiwa hijrah antara lain :
1. Terjalin Ukhuwah Islamiyah.
2. Adanya penghormatan terhadap pluralitas.
3. Kepercayaan yang besar dari penduduk Madinah terhadap kepribadian Rosul saw.

Klik di sini untuk mengirim tanggapan artikel ini .......