Make your own free website on Tripod.com
Back
Dr (HC) H Hamzah Haz

Menyusul di tikungan terakhir. Ungkapan itu cukup pas menggambarkan langkah politik Hamzah Haz dalam pemilu presiden 5 Juli April ini. Siapa nyana, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini akan mencalonkan diri sebagai presiden, setelah sebelumnya berketetapan hati untuk menunggu pinangan dari Megawati Soekarnoputri yang tengah mencari pasangan calon wakil presiden.

Kini, Hamzah tengah berlaga dengan sejumlah kandidat presiden lainnya dalam pemilu presiden dua bulan mendatang. Pria asal Kalimantan Barat ini menggandeng Agum Gumelar, seorang tokoh militer yang juga cukup kenyang duduk di kabinet. Atau mengutip istilah Hamzah, Agum seorang tokoh nasionalis 24 karat, yang akan mengimbangi unsur Islam di PPP.

Ideologi Islam memang melekat pada pria kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940 ini. Apalagi ia kini tengah memimpin partai berbasis massa Islam yang masih memperjuangkan berlakunya syariat Islam di Indonesia. Pilihan karir politik Hamzah yang nilai-nilai Islam tak lepas dari latar belakang keluarganya yang warga Nahdliyin. Selain itu, ia dikenal mahasiswa yang aktif berorganisasi. Tak kurang, Ketua Presidium KAMI Konsulat Pontianak, Ketua Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia dan mewakili Angkatan 66 di DPRD Kalimantan Barat sempat dilakoninya.

Karir di bidang akademik pun tak urung dijalaninya. Hamzah yang lulusan Ilmu Perusahaan Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura ini sempat menjadi dosen di fakultas yang sama. Sebelumnya, ia malah sempat merasakan menjadi seorang wartawan harian Pontianak Bebas sekitar tahun 1961.

Namun, dari sejumlah aktifitasnya, modal sebagai warga Nahdliyin lah yang menjadi dasar kuat Alumni Akademi Koperasi Negara Yogyakarta ini dalam terjun di dunia politik.Hamzah sempat menjadi Wakil Ketua DPW Nahdlatul Ulama (NU) Kalimantan Barat. Karena mewakili NU pula ia hijrah ke Gedung DPR/MPR di Senayan pada 1971. Setelah NU berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan, ia terpilih secara terus-menerus menjadi anggota DPR mewakili PPP. Terakhir, ia menjadi salah seorang ketua DPP PPP, sebelum akhirnya menduduki kursi partai setelah terpilih menjadi Ketua Umum DPP PPP pada akhir 1998.

Kiprah Hamzah di parlemen cukup menonjol. Apalagi, ia duduk di Komisi yang membawahi soal anggaran. Karena cukup mumpuni menguasai ilmu ekonomi keuangan, ia dikenal sangat fasih berbicara masalah moneter, khususnya mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Bahkan, kepiawaian dirinya tersebut membuatnya sempat dijuluki ‘’Ayatullah’’ bidang anggaran. Bahkan, bersama Umar Basalim, mantan wartawan ini menulis buku berjudul "Kebijaksaan Fiskal dan Moneter".
<>br> Tak heran, karena ilmunya di bidang ekonomi, ia mengeyam kursi menteri kabinet pada masa pemerintah Abdurrahman Wahid dan Habibie. Pada 1998 ia menjadi Menteri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkuat kabinet Presiden Habibie. Semula, pria necis berkumis tipis ini sempat enggan mengabulkan ajakan Habibie yang sampai dua kali menelponnya. Ia mengaku, dibandingkan menjadi menteri, ia lebih senang menjadi anggota DPR. Namun, akhirnya ia tak bisa mengelak dari tugas negara tersebut. Namun, pada 10 Mei 1999, ia mengundurkan diri dari jabatan menteri karena muncul desakan masyarakat agar pimpinan partai tidak duduk sebagai menteri.

Pada pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid, pria yang selalu tampil berpeci ini diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan (Menko Kesra dan Taskin). Tetapi, ia memilih mundur dari kabinet, karena berselisih secara sengit dengan koleganya sesama warga Nahdliyin ini.

Karinya semakin meroket ketika Pada hari Kamis, 26 Juli 2001, Hamzah terpilih sebagai Wakil Presiden RI ke-9 mendampingi Presiden Megawati Soekarnoputri. Langkah menuju posisi RI-2 yang ditempuh putra Kalimantan ini bisa dikatakan berliku, sekaligus kontroversial. Berliku, karena ia harus bertarung menghadapi nama-nama yang cukup dikenal luas seperti Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, mantan Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono, Menko Polsoskam Agum Gumelar, dan Siswono Yudo Husodo. Kontroversial, karena pada saat kampanye Pemilu 1999, PPP termasuk partai yang vokal menolak presiden wanita. Tetapi, kini justru Hamzah Haz menjadi wapres yang presidennya seorang wanita. “Saya dulu menolak karena kami wajib menyampaikan pendapat dari para ulama. Kalau tidak bisa, ya sudah. Kita kan harus realistis,” kilahnya suatu ketika.

Sosok Hamzah memang tak selugas Amien Rais, namun juga tak sependiam Megawati. Dibandingkan dengan tokoh politik lainnya, sepak terjang politiknya malah cenderung sepi dari pemberitaan. Namun, sikap politiknya terbukti bisa menentukan perkembangan politik di Indonesia.

--------------------------------------------------------------------------------

Karier Karir:
- Guru di Ketapang (1960-1962)
- Wartawan suratkabar Bebas, Pontianak, Kalimantan Barat (1960-1961)
- Pimpinan Umum Harian Berita Pawau, Kalimantan Barat
- Ketua PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, (1962)
- Ketua Badan Pemeriksa Induk Koperasi Kopra Indonesia (1965-1970)
- Ketua Presidium KAMI Konsulat Pontianak (1968-1971)
- Asisten Dosen di Universitas Tanjungpura Pontianak (1968- 1971)
- Anggota DPRD Tk I Kalimantan Barat (1968-1971)
- Anggota DPR RI (1971-2001)
- Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM (1998-1999)
- Wakil Ketua DPR (1999-2001)
- Menko Kesra dan Taskin (1999)
- Wakil Presiden RI (26 Juli 2001-2004)

Pendidikan Pendidikan
- SMP, Pontianak, Kalimantan Barat
- SMEA, Pontianak, Kalimantan Barat
- Akademi Koperasi Negara, Yogyakarta (1962) Jurusan Ekonomi Perusahaan, Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura, Pontianak (tingkat V, 1970)

Karya Tulis

--------------------------------------------------------------------------------

Ayah
Ibu
Tempat lahir Ketapang, Kalimantan Barat
Tanggal lahir 2/15/40
Agama Islam
Suami/istri - Asmaniah
Titin Kartini
Soraya
Anak

Back