Make your own free website on Tripod.com
Back
Ir. Solahuddin Wahid

Di kalangan dalam dan luar Nahdlatul Ulama (NU), nama Salahuddin Wahid tidak sepopuler sang kakak, Abdurrhaman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Bisa dimaklumi, karena dibanding Gus Dur, pria yang dikenal dengan sapaan Gus Solah ini tidak banyak berkecimpung dalam lembaga struktural NU, layaknya sang kakak. Apalagi, sebagian besar perjalanan hidupnya ia habiskan dengan berkecimpung di organisasi profesi di luar wadah NU.

Gus Dur memang populer karena merupakan seorang pemikir besar yang cerdas, sekaligus kontroversial. Namun, bukan berarti anggota keluarga besar (Alm) KH Wahid Hasyim yang lain, termasuk Gus Solah tidak tergolong cerdas. Buktinya, pria berkacamata ini berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di salah satu Universitas terbaik di Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB). Latar belakang pendidikan alumni arsitektur ITB inilah yang menyebabkan dirinya lebih asik menekuni profesi sebagai ‘’orang biasa’’.

Namun, warisan darah biru keluarga besar Gus Solah yang merupakan salah satu pendiri organisasi kemasyarakatan dan keagamaan terbesar di Indonesia ini bukannya tak melekat sama sekali pada diri pendiri Yayasan Wahid Hasyim ini. Makanya, begitu Soeharto tumbang, dunia politik telah menggelitik dirinya untuk turut berkecimpung dengan mendirikan partai baru bernama Partai Keadilan Umat (PKU) tahun 1998. Masyarakat mulai mengenal Gus Solah, sebagai bagian dari trah keluarga pendiri NU. Namun, yang lebih membuatnya lebih populer lagi, adalah perseteruan sengitnya dengan sang kakak Gus Dur.

Walaupun mempunyai pertalian darah, Gus Dur dan Dus Solah sangat berbeda prinsip. Sang kakak lebih moderat atau banyak yang menyebut sekuler, sementara sang adik lebih berprinsip Islami. Terbukti, PKU yang ia dirikan berasakan Islam, beda dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mili Gus Dur yang nasionalis.

Keduanya saling melontarkan kritik pedas. Bila Gus Dur pernah mengeluarkan ungkapan ‘’Telor dan Tahi Ayam’’ untuk membedakan antara PKU dan PKB, Gus Solah pun memuntahkan kritikan kerasnya. "Mereka membohongi umat dengan menyatakan seakan-akan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) itu partainya NU. PKB bukan partai Islam, tetapi sekuler," ujarnya suatu ketika. Bahkan, jauh sebelumnya, pada saat Muktamat NU di Cipasung, dimana Gus Dur berhasil menduduki Ketua Umum PBNU, Gus Solah berada di pihak yang berseberangan dengan Gus Dur.

Namun, ada sepenggal cerita yang patut menjadi renungan di balik perseteruan kedua saudara kandung ini. Sudah begitu keras pun kritik-kritiknya, dalam kesehariannya, kedua abang-adik ini masih bergaul dengan baik. Sang Adik yang memiliki dua putera dan seorang puteri masih rajin mengunjungi abangnya di Ciganjur. Irfan Asy'ari Sudirman, Iqbal Dorojatun, dan Arina Saraswati, anak-anak Salahuddin, serta ibu mereka, Farida, tetap bersenda-gurau dengan isteri dan puteri-puteri Gus Dur. Begitu juga ayah-ayah mereka. Malah, ujar pria yang pandai menyanyi ini, polemik antara dirinya dengan Gus Dur merupakan Konflik yang sejuk.

Siapa yang menyangka bahwa cerita selanjutnya malah berlanjut dengan kembalinya Gu Solah ke lembaga struktural PBNU. Tahun 1999, pria berputra tiga ini menduduki kursi Ketua PBNU, dan malah belakangan direstui oleh Gus Dur untuk menjadi cawapres partai Golkar.

Fakta politik menujukkan bahwa Gus Solah maju menjadi capres atas dukungan PKB, partai yang kelahirannya dibidani oleh Gus Dur. Namun, walaupun ijtihad politik Gus Solah ini seakan mengikis habis sisi kontroversial dirinya dengan Gus Dur, namun ia kini justru masuk ke wilayah kontroversi yang lain.

Sikap Gus Solah yang menerima pinangan capres partai Golkar Wiranto, menjadi antiklimaks karirnya di Komnas HAM. Bayangkan, Wakil Ketua Komnas HAM ini harus berpasangan dengan orang yang dianggap bertanggungjawab atas sejumlah pelanggaran HAM di Indonesia. Padahal, lembaga yang digawangi Gus Solah ini harus bergiat mengungkap kasus pelanggaran HAM dan beberapa kali bergesekan dengan Wiranto.

Ia akhirnya menjatuhkan pilihan. Putra ketiga syeik besar KH Wahid Hasyim ini memilih untuk meneruskan niatnya menjadi RI-2, dan menanggalkan jabatannya di Komnas HAM. Hanya ia yang tahu ada apa dibalik agenda politiknya kali ini. (dari berbagai sumber)

--------------------------------------------------------------------------------

Karier Pengalaman Pekerjaan:
Wakil Ketua Komnas HAM (2002-2007)
Anggota MPR (1998-1999)
Penulis lepas pada berbagai media (1998-sekarang)
Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996)
Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997)
Direktur Utama Perusahaan Kontraktor (1969-1977)

Pengalaman Organisasi:
1957-1961 Kepanduan Ansor
1961-1962 Wakil Ketua OSIS SMAN 1 Jakarta
1963-1964 Anggota pengurus Senat Mahasiswa Arsitektur ITB
1967 Bendahara Dewan Mahasiswa ITB
1964-1966 Komisariat PMII ITB
1964-1966 Wakil Ketua PMII Cabang Bandung
1966-1967 Dewan penurus Pendaki Gunung Wanadri
1973-skrg Anggota Ikatan Arsitek Indonesia
1988-skrg Anggota Persatuan Insinyur Indonesia.
1989-1990 Ketua DPD DKI Indkindo (Ikatan Konsultan Indonesia)
1991-1994 Sekretaris Jenderal DPP Inkindo
1993-1994 Pemred Majalah Konsultan
1994-1998 Ketua Departemen Konsultan Manajemen Kadin
1995 Mendirikan Ikatan Konsultan Manajemen Indonesia
2002-2005 Anggota Dewan Pembina YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia)
1999-2004 Ketua PBNU
2000-2005 Ketua MPP ICMI
1995-2005 Anggota Dewan Penasehat ICMI
1998-1999 Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat
1998-1999 Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU
2002-2005 Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
2000-skrg Ketua Badan Pendiri Yayasan Frum Indonesia Satu.
1993-skrg Anggota Pengurus IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia)
1995 Ketua Panitia Lomba Karya Tulis IKPNI
1982 Pendiri Yayasan Baitussalam
1982-1991 Ketua Badan Pengurus Yayasan Baitussalam
1991-1994 Anggota Badan Pengawas Yayasan Baitussalam
1985 Pendiri Yayasan Wahid Hasyim
1999 Sekretaris Badan Pendiri Yayasan Wahid Hasyim

Pendidikan Institut Teknologi Bandung
Karya Tulis

--------------------------------------------------------------------------------

Ayah KH Wahid Hasyim
Ibu
Tempat lahir Jombang, Jawa Timur
Tanggal lahir 9/11/42
Agama Islam
Suami/istri
Anak Tiga orang

Back