Make your own free website on Tripod.com
( Oleh : Lukman Hakim )

A. PENDAHULUAN
Saat ini dirasakan ada keprihatinan yang sangat mendalam tentang dikotomi ilmu agama dengan ilmu umum. Kita mengenal bahkan meyakini adanya sistem "pendidikan agama" dan "pendidikan umum". Seiring dengan itu berbagai istilah kurang sedap pun hadir ke permukaan. Misalnya adanya fakultas agama dan fakultas umum, sekolah agama dan sekolah umum. Bahkan dikotomi itu menghasilkan bahwa "pendidikan agama" berjalan tanpa dukungan iptek dan sebaliknya, "pendidikan umum" hadir tanpa sentuhan agama.

Usaha untuk mengetahui dan mencari paradigma baru pendidikan Islam di Indonesia tidak akan pernah berhenti sesuai dengan zaman yang terus berubah dan berkembang. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pemikiran untuk mencari paradigma baru pendidikan Islam di Indonesia bersifat reaktif dan defensif, yaitu menjawab dan membela kebenaran setelah adanya tantangan.
Sehubungan dengan hal tersebut Penulis mencoba membuat deskripsi pendidikan Islam di Indonesia baik dari sudut pandang sejarah maupun unsur lain yang berkaitan dengan pendidikan Islam di Indonesia.

B. PENGERTIAN
Teori-teori pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia secara umum mendefinisikan pendidikan Islam dalam dua tataran yaitu : Pertama, Pendidikan Islam sebagai satu sistem yang independen dengan sejumlah kriterianya yang serba Islam. Definisi ini secara kuat dipengaruhi oleh literatur Arab yang masuk ke Indonesia baik dalam bentuk teks asli, terjemahan maupun sarah. Kedua, Pendidikan Islam ditempatkan sebagai identitas ( ciri khusus ) yang tetap berada dalam konteks pendidikan nasional.

Dilihat dari sudut pandang kita tentang Islam yang berbeda-beda, istilah pendidikan Islam tersebut dapat dipahami sebagai :
(1) Pendidikan (menurut ) Islam , (2) Pendidikan (dalam ) Islam, (3) Pendidikan (agama) Islam . Dalam hubungan yang pertama pendidikan Islam bersifat normatif, sedang dalam hubungan yang kedua pendidikan Islam lebih bersifat sosio-historis. Adapun dalam hubungan yang ketiga pendidikan Islam lebih bersifat proses - operasional dalam usaha pendidikan ajaran-ajaran agama Islam.

C. PRINSIP-PRINSIP DASAR PENDIDIKAN ISLAM
1. Pendidikan Islam adalah bagian dari proses rububiyah Tuhan.
Karakter hakiki pendidikan Islam pada intinya adalah keseluruhan dari proses dan fungsi rububiyah Tuhan terhadap manusia, sejak dari proses penciptaan, pertumbuhan dan perkembangannya secara bertahap dan berangsur-angsur dewasa dan sempurna. Selanjutnya atas dasar tugas kekholifahan, manusia sendiri bertanggungjawab untuk merealisasikan proses pendidikan Islam tersebut sepanjang kehidupan nyata di dunia ini.

2. Pendidikan Islam berusaha mebentuk manusia seutuhnya.
Manusia terdiri dari unsur jasmani serta rohani dan merupakan potensi yang dianugerahkan Alloh swt kepada manusia. Pendidikan Islam dalam hal ini merupakan usaha untuk mengembangkan potensi itu menjadi kesempurnaan aktual dan mengoptimalkan potensinya dalam garis keridhoan Alloh swt.

3. Pendidikan Islam selalu berkaitan dengan agama.
Pendidikan Islam selalu mengajarkan agama bukan saja sebagai materi atau ketrampilan sebagai kegiatan jasmani semata, melainkan selalu mengaitkan semuanya itu dengan kerangka praktek ('amaliah) yang bermuatan nilai dan moral. Jadi pengajaran agama dalam pendidikan Islam tidak selalu dalam pengertian agama formal tapi bisa dalam pengertian " essensi "nya yang dapat saja berada dalam ilmu-ilmu umum.

4. Pendidikan Islam merupakan pendidikan terbuka.
Keterbukaan pendidikan Islam dapat dilihat dari kelenturan untuk mengadopsi (menyerap) unsur-unsur positif dari luar, sesuai perkembangan dan kebutuhan masyarakatnya dengan tetap menjaga dasar-dasarnya yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits.

D. SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia kemunculan dan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan Islam yang diawali oleh usaha sejumlah tokoh intelektual agama Islam seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari yang kemudian dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Umat Islam dan lain-lain.
KH. Ahmad Dahlan diakui sebagai salah satu tokoh pembaharu dalam pergerakan Islam di Indonesia, antara lain karena mengambil peran dalam mengembangkan pendidikan Islam dengan pendekatan-pendekatan yang lebih moderen.

Pada 1 Desember 1911 Ahmad Dahlan mendirikan sekolah dasar di lingkungan kerathon Yogyakarta dan memberikan pengaruh keagamaannya yang cukup kuat. Guru-guru pribumi dilibatkan dalam sekolah itu sebagai pengajar, dengan sistem pengajaran lebih menyerupai sistem pendidikan pemerintah Hindia Belanda sehingga ia menerima subsidi pemerintah Belanda.

Usaha-usaha pendirian madrasah oleh KH. Ahmad Dahlan semakin digalakkan setelah ia membentuk perkumpulan Muhammadiyah. Di samping mengembangkan Tabligh, perkumpulan ini sejak awal berdirinya sudah berusaha mendirikan sekolah dan madrasah di banyak wilayah. Dalam mengembangkan pendidikan Islam, Muhammadiyah menggunakan dua sistem : sekolah yang mengikuti pola gubernermen yang ditambah dengan pelajaran agama dan madrasah yang lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama, seperti Mu'allimin Muhammadiyah, Mu'allimat Muhammadiyah, HIS Muhammadiyah, MULO Muhammadiyah, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, Madrasah Tsanawiyah/Wustha Muhammadiyah. Pada tiap-tiap sekolah tersebut diberikan mata pelajaran umum dan agama secara berimbang.

Pendirian sekolah dan madrasah ini menjadi prioritas dalam setiap gerakan Muhammadiyah, sehingga dimana ada cabang perkumpulan ini dipastikan ada sekolah atau madrasah Muhammadiyah. Hal ini dimungkinkan karena kalangan pendukung Muhammadiyah kebanyakan berasal dari kaum pedagang dan pegawai di wilayah perkotaan sehingga mudah untuk dikoordinasikan.

Tokoh lain yang dipandang berperan dalam pembaharuan pendidikan Islam adalah KH. Hasyim Asy'ari. Beliau telah memperkenalkan pola pendidikan Madrasah di lingkungan pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur. Pesantren Jombang Tebu Ireng Jawa Timur didirikan pada tahun 1899 yang awalnya hanya memiliki 28 santri. Pengajaran yang diberikan lebih menitikberatkan pada ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Ketinggian ilmu yang dimiliki KH. Hasyim Asy'ari baik yang diserap dari pesantren di Jawa dan Madura maupun dari Mekkah selama delapan tahun, menambah bobot tersendiri bagi pesantren Tebu Ireng.

Setelah pembentukan perkumpulan Nahdlatul Ulama, apa yang dilakukan KH. Hasyim Asy'ari dijadikan model bagi usaha perkumpulan tersebut dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1919 pesantren Tebu Ireng mengalami pembaharuan. Pendidikan yang selama ini dilaksanakn dengan hanya sistem sorogan dan bandungan ditingkatkan dengan memasukan sistem berkelas, yang terkenal dengan sistem madrasah. Setelah ditangani sendiri selama kurang lebih enam tahun, pengelolaan madrasah kemudian diserahkan kepada KH. Ilyas. Di bawah kepemimpinannya madrasah dikembangkan menjadi madrasah yang juga mengembangkan ilmu-ilmu umum dengan buku-buku yang ditulis dalam huruf latin. Seperti membaca dan menulis huruf latin, bahasa Indonesia, ilmu bumi dan ilmu hitung. Pola ini dalam perkembangannya diadopsi oleh pesantren-pesantren lain khususnya di Jawa, termasuk di Kediri, Demak, Kudus, Cirebon dan Banten. Kabanyakan pesantren memasukan dalam sistem pendidikannya dua model sekaligus : madrasah diniyah yang khusus untuk pengajaran ilmu-ilmu agama dan madrasah umum yang terbuka untuk pengajaran ilmu-ilmu non agama.

Ketika memasuki periode perkembangan pasca kemerdekaan Indonesia, usaha pembinaan dan pengembangan madrasah oleh pemerintah sebagian tertumpu pada madrasah-madrasah yang sudah ada. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa seradikal apapun perubahan yang diusahakan oleh pemerintah agaknya pola dan variasi madrasah tidak akan keluar dari tiga format dasar : (1) Madrasah yang menyerupai sekolah Belanda 2) Madrasah yang menggabungkan secara lebih seimbang antara muatan-muatan keagamaan dan non keagamaan (3) Madrasah diniyah (keagamaan) yang lebih menekankan pada muatan-muatan keagamaan dan menambahkan muatan-muatan umum secara terbatas

E. SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Untuk dapat memajukan pendidikan Islam di Indonesia kita perlu menata dan membangun kembali sistem pendidikan Islam di Indonesia yang antara lain terdiri dari :

1. Orientasi
Pada awalnya sistem pendidikan Islam di Indonesia lebih banyak berkonsentrasi pada urusan ukhrowiyah, nyaris lepas dari urusan duniawiyah. Satu-satunya urusan Mu'amalat yang paling banyak dibicarakan adalah hukum waris. Kini orientasinya telah berkembang di mana urusan duniawiyah memperoleh porsi seimbang dengan urusan ukhrowiyah. Iptek, pemikiran, keterbukaan dan antisipasi ke depan semakin menguat. Namun demikian masih terasa adanya dikotomi antara ilmu agam dan ilmu umum. Agama hanya dikaitkan dengan rohani sehingga tokoh agama sering disebut "rohaniawan" dan tokoh ilmu umum "ilmuwan" dan "teknolog".

2. Strategi
Sistem pendidikan Islam di Indonesia harus dapat diarahkan bagaimana mengisinya agar sistem pendidikan nasional terisi oleh nilai-nilai yang semakin identik dengan ajaran Islam, sehingga sistem pendidikan nasional mampu membawa cita-cita nasional : mewujudkan bangsa moderen dengan teap berwajah iman dan taqwa.

3. Sumber Belajar
Kalau dulu santri hanya menerima materi dari sumber tunggal yakni kyai. Tetapi kini mereka dapat belajar dari siapa saja dengan bahasa yang mereka kuasai. Perpustakaan telah menjadi pusat kegiatan belajar mandiri. Meskipun demikian budaya membaca belum benar-benar akrab dengan umat dan inilah salah satu tugas dan tanggung jawab pendidikan Islam di Indonesia untuk meberdayakan gemar membaca di kalangan umat.

4. Metodologi Belajar
Metodologi belajar dan mengajar sistem pendidikan Islam di Indonesia sampai saat ini masih bercorak menghafal, mekanis dan lebih mengutamakan pengkayaan materi. Kesadaran bahwa metodologi belajar mengajar pada akhirnya harus membawa anak didik untuk belajar lebih lanjut, harus merubah metodologi belajar " klasik " menjadi "moderen" yang berusaha untuk mengembangkan daya kritis siswa untuk memecahkan masalah harus dibudayakan. Semua bahan yang sesuai dengan tingkat kematangan berfikir siswa hendaknya diberikan secara lengkap.

5. Kondisi Kelembagaan
Penataan sistem kelembagaan pendidikan Islam di Indonesia secara profesional sudah merupakan kebutuhan mendesak, sebab masih banyak lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang bersifat non formal, tidak profesioanl dan kurang terpelihara dengan baik. Di samping itu pertumbuhan lembaga pendidikan Islam secara kuantitatif jauh menggebu, sedang pertumbuhan kualitasnya nyaris terabaikan.

6. Kondisi Sosial Budaya Umat
Pada awalnya kondisi sosial budaya umat bercorak fiqih, sufistik dan primordial. Kini kondisinya telah berubah dari tradisional menuju rasional. Hal ini bisa terwujud karena tingkat kesadaran dan pendidikan umat sudah menunjukan ke arah yang lebih baik.

F. PENUTUP
Demikianlah makalah yang Penulis susun dengan judul Pendidikan Islam di Indonesia. Untuk dapat memahami pendidikan Islam di Indonesia kita perlu mencermati hal-hal antar lain :
1. Pengertian Pendidikan Islam.
2. Prinsip-prinsip dasar Pendidikan Islam.
3. Sejarah Pendidikan Islam.
4. Sistem Pendidikan Islam di Indonesia.
Kemudian tidak menutup kemungkinan maasih banyak wilayah-wilayah keilmuan yang perlu digali untuk dapat memahami pendidikan Islam di Indonesia dengan baik. Dan tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari wilayah-wilayah yang ada, yang Penulis susun dengan sederhana. Untuk itu saran dan kritik yang konstruktif sangat Penulis harapkan dari para netter demi perbaikan di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Tajab, Dasar-dasar Kependidikan Islam : Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya, Karya Aditama, Th 1996.
  2. Dr. H.Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta, Logos Wacana ilmu, Th 1999.
  3. Prof.Dr. Mastuhu, M.Ed, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, Th 1999.

Klik di sini untuk mengirim tanggapan artikel ini .......